Pemukiman Setan Review!
Pernah tidak mendengarkan pepatah atau perkataan, mencari jarum dalam jerami? Jika iya, maka film ini mendeskripsikan pepatah tersebut. Sebuah berlian di tumpukan rongsokan yang sudah usang, lama, dan tidak baru. Charles Gozali kembali lagi menghadirkan sebuah suguhan baru melalui filmnya, Pemukiman Setan. Namun, sayangnya film ini tidak sebagus film Qodrat.
Berawal dari penceritaan si karakter utama, Alin. Ia memiliki seorang adik, dan ia merupakan seorang perempuan miskin, mencari uang untuk membayar utang yang ayahnya miliki. Alin pun berangkat bersama dengan Gani dan temannya, Fitrah dan Zia, untuk "namu" ke sebuah rumah yang menurut dari intel, penghuninya sedang pergi. Dari rumah inilah, berbagai misteri terkuak, dan merusak rencana mereka yang awalnya untuk mencuri, menjadi mencari cara untuk bertahan hidup dari bangkitnya seorang iblis.
Dari segi cerita dan pacing film terasa nyaman untuk ditonton dan tidak terasa terlalu lambat ataupun cepat. Akting dari para aktor dan aktris juga sangat baik, terlebih karakter yang mereka perankan juga memorable. Alin si wanita tangguh namun memiliki rasa takut akan kemunculan penglihatan dari mimpinya, Gani si lelaki yang mudah mempercayai orang juga memiliki rasa cinta terhadap temannya yang ia anggap sebagai keluarga sendiri. Fitrah si lelaki yang sangat frontal dan galak sekali, juga Zia si wanita yang memiliki penyakit namun bertahan terus untuk mencoba menyelamatkan Fitrah dan Gani. Keempat karakter yang menjadi para maling ini masing-masing memiliki cerita dan kepribadiannya yang unik. Mereka bertampil dengan natural dan juga tidak membuat rasa cringe. Terlebih ada di salah satu karakter yang walaupun tampil sangat cepat, ia mampu memberikan rasa memorable dengan aksinya. Aksinya menonjok si setan berkali-kali menggunakan tangan kosongnya. Mana ada karakter nekat seperti itu di film horror Indonesia sebelumnya?
Namun ada satu karakter yang terbaik dari seluruh film ini, yaitu, Urip yang diperankan oleh Teuku Rifnu Wikana. Seorang yang sudah ditugaskan untuk menghentikan kutukan juga turunan dari mbah Sarap, si dukun jahat. Namun ia bukan hanya seorang ahli paranormal yang bertampilan misterius, sudah tua, ataupun terlihat seperti orang yang memiliki kelainan. Ia menampilkan seorang ahli dalam silat juga supernatural. Disinilah momen puncak dari film Pemukiman Setan. Seperti halnya di film Qodrat, balik lagi Charles Gozali menggunakan aksi martial arts yang intens dan memiliki koreografi yang bagus. Urip ini lah yang memiliki aksi paling banyak. Apalagi dengan gaya bicaranya yang tidak ada filternya sama sekali. Disinilah bagian terbaik dari film Pemukiman Setan, membawa hal dan momen yang keren, juga komedi-komedi dari karakter Urip tersebut.
Barulah kita masuk ke penjahat utama dari film ini, mbah Sarap juga Sukma yang menjadi penerus kutukan tersebut. Film ini dibuka dengan menunjukkan awal mula dari kutukan cacing ini, dari mbah Sarap yang manipulatif, disiksa dan akhirnya dihukum mati karena sudah melakukan prakter ilmu hitam yang sangat berbahaya. Sukma inilah yang menjadi penerus dari kutukan tersebut. Tampilannya mungkin generic atau biasa saja, namun ia merupakan seorang setan yang senang tertawa. Mengingatkan saya ke dahulu bagaimana penampilan kuntilanak yang sangat sering tertawa di film-film horror atau sinetron. Karakteristik dari Sukma pun mengingatkanku kepada Deadites dari film Evil Dead. Penggunaan bahasa Jawa juga lore membuat saya lebih tertarik ke dalam film ini, juga lore atau cerita yang mungkin akan dibahas di film selanjutnya.
Namun ada satu hal yang membuat saya kurang menyukai film ini, yaitu dari segi writingnya. Writing film Qodrat menurut saya sangat baik, sampai di paruh akhir dimana terdapat sebuah twist yang membuat ending dari film tersebut lebih panjang. Sangat tidak diperlukan, namun di film ini malah lebih parah, karena membuat seorang karakter menjadi goblok. Ya, Alin yang sedang di rumah tidak berpenghuni, tiba-tiba melihat adiknya mondar-mandir di dalam rumah tersebut. Bukannya merasa takut, ia malah ingin mencari dan mengikuti adiknya. Padahal, Alin dengan mata kepalanya sendiri melihat bahwa adiknya itu ada di rumah dan tidak ikut sama dia. Lah terus bagaimana kok Alin, yang enggak bodoh sama sekali, tiba-tiba tertipu oleh sebuah ilusi? Aneh, sangat aneh, seperti si penulis tidak bisa mencari cara untuk gimana si karakter Alin bisa berpindah ke tempat ini ke tempat lain, atau menghadirkan sebuah plot progression. Terus aksi yang ada juga sangat sedikit, sangat disayangkan padahal ada berbagai senjata yang digunakan, mulai dari kapak sampai keris pusaka. Film ini juga tidak memiliki angka kematian yang tinggi, padahal gore dan effect CGI untuk cacing sudah baik. Dan beberapa karakter pada akhir film masih hidup, padahal sudah terluka parah.
Pada akhirnya film gabungan dari Don't Breathe, Evil Dead, juga sedikit bau Pengabdi Setan pada endingnya (mayat hidup alias zombie), Pemukiman Setan merupakan sebuah film yang bagus. Iya, tidak seistimewa Qodrat, namun dari berbagai film horror Indonesia lainnya yang sudah usang ataupun generic, film ini tetap memiliki sebuah istimewa. Pada akhirnya, saya menginginkan lagi, sebuah kelanjutan ataupun film lainnya dari Charles Gozali. Terima kasih sudah menghadirkan sebuah cahaya di dalam kegelapannya film horror Indonesia!
Barulah kita masuk ke penjahat utama dari film ini, mbah Sarap juga Sukma yang menjadi penerus kutukan tersebut. Film ini dibuka dengan menunjukkan awal mula dari kutukan cacing ini, dari mbah Sarap yang manipulatif, disiksa dan akhirnya dihukum mati karena sudah melakukan prakter ilmu hitam yang sangat berbahaya. Sukma inilah yang menjadi penerus dari kutukan tersebut. Tampilannya mungkin generic atau biasa saja, namun ia merupakan seorang setan yang senang tertawa. Mengingatkan saya ke dahulu bagaimana penampilan kuntilanak yang sangat sering tertawa di film-film horror atau sinetron. Karakteristik dari Sukma pun mengingatkanku kepada Deadites dari film Evil Dead. Penggunaan bahasa Jawa juga lore membuat saya lebih tertarik ke dalam film ini, juga lore atau cerita yang mungkin akan dibahas di film selanjutnya.
Namun ada satu hal yang membuat saya kurang menyukai film ini, yaitu dari segi writingnya. Writing film Qodrat menurut saya sangat baik, sampai di paruh akhir dimana terdapat sebuah twist yang membuat ending dari film tersebut lebih panjang. Sangat tidak diperlukan, namun di film ini malah lebih parah, karena membuat seorang karakter menjadi goblok. Ya, Alin yang sedang di rumah tidak berpenghuni, tiba-tiba melihat adiknya mondar-mandir di dalam rumah tersebut. Bukannya merasa takut, ia malah ingin mencari dan mengikuti adiknya. Padahal, Alin dengan mata kepalanya sendiri melihat bahwa adiknya itu ada di rumah dan tidak ikut sama dia. Lah terus bagaimana kok Alin, yang enggak bodoh sama sekali, tiba-tiba tertipu oleh sebuah ilusi? Aneh, sangat aneh, seperti si penulis tidak bisa mencari cara untuk gimana si karakter Alin bisa berpindah ke tempat ini ke tempat lain, atau menghadirkan sebuah plot progression. Terus aksi yang ada juga sangat sedikit, sangat disayangkan padahal ada berbagai senjata yang digunakan, mulai dari kapak sampai keris pusaka. Film ini juga tidak memiliki angka kematian yang tinggi, padahal gore dan effect CGI untuk cacing sudah baik. Dan beberapa karakter pada akhir film masih hidup, padahal sudah terluka parah.
Pada akhirnya film gabungan dari Don't Breathe, Evil Dead, juga sedikit bau Pengabdi Setan pada endingnya (mayat hidup alias zombie), Pemukiman Setan merupakan sebuah film yang bagus. Iya, tidak seistimewa Qodrat, namun dari berbagai film horror Indonesia lainnya yang sudah usang ataupun generic, film ini tetap memiliki sebuah istimewa. Pada akhirnya, saya menginginkan lagi, sebuah kelanjutan ataupun film lainnya dari Charles Gozali. Terima kasih sudah menghadirkan sebuah cahaya di dalam kegelapannya film horror Indonesia!
8/10

Comments
Post a Comment