Exhuma (2024) Review
Sebuah film yang menunjukkan bahwa trauma dari masa kolonialisme dan penjajahan Jepang masih terasa di tanah Korea, sampai sang Rubah membelah pinggang si Harimau. Tentu pendekatan horror bukanlah hal yang baru, film The Wailing sebelumnya sudah memperlihatkan kesuksesan tersebut. Menggunakan elemen oni atau iblis Jepang bermuka Kunimura Jun. Tema penjajahan terdapat di seluruh babak film, mulai dari awal sampai terakhir. Pernikahan anak dari karakter Kim Sang Deok menunjukkan bahwa "lintas budaya" bukan selalu hal negatif. Lucunya ia menikahi seorang Jerman, yang kalau dilihat di satu scene, ada adegan sang hantu melakukan salut Jepang, namun ada bumbu salut Nazi ( trio Hitler Mussolini dan Hirohito).
Film ini sangat enak ditonton, namun memang terasa ada dua babak ketiga, yakni film ini seperti dua episode. Episode pertama: masalah klien dengan hantu kakek buyut yang memiliki dendam, dan episode kedua: si siluman penjajah. Agak mengagetkan, tapi tidak merusak pacing dari film. Film ini juga membutuhkan dua atau tiga kali menonton karena banyak sekali detil-detil yang pada saat sekali menonton bisa tidak terlihat. Seperti si antagonis film ini, seorang biksu bernama Murayama Junji alias Gisune, si siluman rubah yang menjelma menjadi manusia dan, menjadi dalang segala kejadian di film ini.
Akting bagus, karakter di develop dengan baik, sampai penggunaan cinematography juga editing yang keren. Ditambah dengan penggunaan chapter ala Kill Bill, dan suara terkenal dari Law and Order, tentunya dalam versi yang lebih creepy. Suara dan atmosfer yang menjadi senjata utama untuk membangun horror film ini. Mulai dari ritual yang sangat membuat saya nostalgik terhadap The Wailing, sampai suara dari sang oni. Apakah ini film yang akan membuat saya trauma sampai tidak bisa tidur? Tentu tidak, tapi akan membuat saya terus berpikir betapa bagus dan dalamnya film ini. Terutama dalam menyampaikan pesan utama tersebut.
Mari kita masuk ke bagian yang agak spoiler, mitologi Jepang yang membuat saya tersenyum sendiri. Gisune, rubah, iron stake (katana), shogun, oni, onibi, nure onna, dan masih banyak lagi. Hal-hal yang merugikan Korea berasal dari Jepang. Dalang ada di tangan seorang biksu Jepang, yang memiliki ilmu Feng Shui berkebalikan dengan ilmu sang karakter utama di film ini. Namun apakah sepenuhnya yang jahat ada di tangan Jepang? Bukankah ini menjadikan film propaganda anti Jepang? Bukan, ternyata ada dalang lain yang berada di tangan kakek buyutnya klien Hwarim yang menjadi permasalahan utama di film ini. Ia merupakan seorang pejabat tinggi Korea, yang rela menjual tanah Korea ke atas tangan Jepang. Namun pada saat ia meninggal, ia sendiri pun digunakan oleh Gisune untuk menjadi sebuah pelindung, agar si tongkat besi yang ia tanam di atas tanah sebuah gunung, dijauhi dari para penggali kubur/ grave robbers. Tanah tersebutlah yang membelah Korea menjadi dua bagian, dan disitulah terdapat kuburan ganda, dimana tepat dibawah kuburan sang pejabat tinggi itu adalah kuburan sesosok oni. Disini, oni berperan sebagai penjaga kawasan tanah milik Jepang tersebut, ditambah dengan sosok Nure Onna yang menjadi sebuah pertanda, juga pelindung si oni. Namun pada saat akhirnya, si oni pun terbangun, dan terror menjadi lebih mencekam lagi sampai film selesai.
Film ini sangat cocok dengan hype yang terjadi, dan dengan adanya berita bahwa film ini sudah menembus satu juta penonton di Indonesia, saya tidak heran. Film Exhuma memang worth sekali untuk ditonton, sebuah film horror ritual, dukun, siluman, yang sangat erat dengan Indonesia. Namun sayang, film Indonesia masih sedikit yang bisa menyentuh puncak yang ditempati film ini.
9.5/10



Comments
Post a Comment