Review: Rambo: Last Blood (2019)
Film terakhir John Rambo yang brutal, sadis dan berdarah darah.
--Film ini disutradarai oleh Adrian Grunberg--
Akhirnya film yang sudah ditunggu tunggu untuk para fans John Rambo (Sylvester Stallone) datang juga. Dan film ini memberitahukan kepada penonton bahwa seri Rambo sudah selesai, walaupun di akhirnya sudah diperlihatkan bahwa bisa saja membuahkan sekuel sekuel lainnya.
Berceritakan tentang John Rambo yang sudah pensiun dari pekerjaannya sebagai tentara, dan sekarang tinggal di sebuah rumah dengan gaya western di Arizona. Ia hidup dengan temannya Maria Beltran (Adriana Barraza) dan cucunya Gabrielle (Yvette Monreal). Suatu hari, Gabrielle mendapatkan kabar bahwa ayahnya ternyata ada di Mexico dan ia pergi untuk menanyakan mengapa meninggalkan Gabrielle sendiri, tetapi akhirnya masuk ke dalam sebuah organisasi yang menjualkan prostitusi. Dengan begitu, John Rambo harus pergi ke Mexico untuk menyelamatkan Gabrielle, tetapi ia juga harus membawa musuh itu ke tangannya sendiri untuk dihabiskan.
Dari awal film sudah diceritakan kalau ini mirip dengan Logan (2017), dan juga sedikit mirip John Wick (2014). Diceritakan bahwa John Rambo ini sudah pensiunan dan sekarang lebih menyukai dengan hewan peliharaannya di peternakan, seperti yang paling signifikan yaitu kuda. Sudah terlihat bahwa ia memiliki PTSD dari masa masa perangnya dulu, dan ingin melupakannya tetapi tidak bisa. Disini saya sangat menyukai dimana bahwa Rambo itu manusia biasa yang memiliki latar belakang militer, dan bukan manusia super yang bisa membunuh musuh musuhnya dengan gampang. Saya juga menyukai bahwa ia di satu scene dihajar habis habisan, sampai berdarah, walaupun mungkin alasannya agak bodoh, karena juga mengapa ke tempat itu sendiri dan juga hanya untuk disiksa. Tetapi di akhirnya ia berhasil membuahkan hasil yang saya ingini dan harapkan dari film R rated ini.
Mungkin kelemahannya ada di awal sampai di pertengahan act 2, karena di act 2 inilah mulai ada aksi aksi brutal dan berdarah, tetapi tidak seperti yang di babak terakhir film ini. Iya, film ini sangat lama pacenya, sehingga bisa dibilang cukup membosankan di beberapa part film ini, tetapi film ini memberikan akhir yang membuat saya merasa senang dan juga penonton merasa jijik dan ngeri karena kesadisan yang diberikan di scene tersebut. Mulai dari kepala dipenggal, kena tusuk perangkap, ketembak shotgun, dan juga aksi aksi berdarah lainnya, ada di film ini. Cuman, harus sabar untuk ke momen ini, bisa dibilang terakhirnya merupakan sebuah bloodbath bagi para penjahat.
Ngomong ngomong tentang penjahat, penjahat disini merupakan penjahat yang cukup memberikan perasaan di saat mereka mati saya menjadi senang dan berteriak di dalam hati, "rasain lu". Sehingga bisa dibilang walaupun mungkin bukan penjahat yang bisa membuat kita bersimpati dengannya, tetapi cukup membuat saya menginginkan penjahat tersebut mati dan dibabat habis sama John Rambo.
SCORE: 7/10
Akhir film dan aksi sudah bagus dan darahnya sudah cukup banyak dan brutal dan juga sadis. Mungkin kelemahannya ada di awal film, karena agak bosan dan juga lama. Walaupun begitu, karakter disini memberikan cukup performa yang bagus dan saya merasa peduli dengan mereka, walaupun ada beberapa yang menurut saya bisa diberi waktu lebih untuk berdevelop, dan juga seperti random karakter untuk membantu satu karakter lain di film ini.
Tetaplah berkarya Adrian Grunberg, walaupun ini film ketiga ia sudah menyutradarainya (Get the Gringo (2012) dan Here on Earth--Persona Protegida (2018)), ia sudah membuat film ini dengan rapih dan layak ditonton.


Comments
Post a Comment