Bantuan Darah Bab 3: Malam Jumat Kliwon
Seusai sekolah bubar, Bayu langsung bertemu Ranoto di depan pintu gerbang masuk sekolah. Di situ mereka langsung beranjak menjalani jalan setapak ber-alas batu bata bercampur tanah. Di sepanjang perjalanan mereka berdua berbincang bincang. Dari masalah mereka dan juga sesuatu yang akan membuat mereka bekerja sama.
"Jadi, kenapa anda mengajak aku ke rumah kamu?, apakah ada sesuatu yang penting atau?"
"Aku ingin membicarakan sesuatu. Apakah kamu kenal dengan ilmu santet, hitam ataupun lainnya?" Pembicaraan Bayu dipotong dengan kalimat tersebut dari Ranoto.
Sentak Bayu terkejut dan membalas.
"Hah? iya aku tau, tapi buat apa kamu menanyakan aku hal begituan, aku sama sekali tidak mengerti, dan mungkin hanya kamu saja yang mengerti."
"Yaaaa memang aku juga tau, aku tidak bodoh juga kali Bayu hahaha, maksud aku, kalau kamu punya kekuatan untuk melepas kendali pada hal itu, apakah kamu akan gunakan?"
"Ohhhh, hmm, tentu.., mungkin untuk semua hal yang membuat saya jengkel, para bangsat itu memang harus mendapatkan karmanya."
"Benar, aku juga melihat mereka, selalu pulang pergi ke sebuah Klub Malam, memang kelompok anak durhaka. Apakah kamu setuju untuk membuat mereka menyesali perbuatan mereka?"
"Maksud mu, menyesali?"
"Iya, benar, agar mereka tidak melakukan hal yang sama terus dan menerus, biarkan mereka masuk ke neraka saja sekalian. Tentunya, kamu sudah mendengarkan tentang rumor rumor yang berkaitan dengan saya?"
"Iya, saya pernah mendengarnya."
"Berarti kamu sudah tau bahwa aku memiliki seorang pelindung, dan juga bisa melihat hal hal yang tak bisa dilihat oleh manusia, benar?"
"Bentar.., jadi kamu bisa melihat hal hal begituan? Anjing, kok keren sih, lah lah anjirr, wehh gw pingin dong, ajarin dong!"
"Tidak semudah itu juga ferguso, hahaha, sudahlah, jika kamu setuju untuk bersekutu atau "berteman" dengan saya, saya janji, kita berdua bisa membalas semua dendam yang kita punya terhadap para bangsat itu."
"Anjir, gila sih, iyalah gw terima persekutuanmu apapun itu, bodo amat yang penting gw mau mereka para bangsat itu mati. Hahahaha"
Mereka pun tertawa bersama dan terus berbincang sampai datang di rumah kediaman Ranoto. Rumahnya seperti gubuk kayu, berukuran sedang, Saat masuk, sudah tercium bau kemenyan, bunga kantil, dan juga lain lainnya. Di belakang rumahnya, banyak ayam djago dan juga ayam cemani, sepertinya ia memelihara dan menernak mereka. Setelah itu ia di ajak duduk di ruang tamu dan dengan berhadapan muka dengan Ranoto, hanya dipisah oleh satu meja kotak terbuat dari kayu dengan cukup besar ukurannya. Rupanya, meja ini juga sudah difurnis dengan rapih dan bagus.
Jam sudah menunjukkan tepat angka 12.00 yakni jam 12 malam. Mulai dari ubo rampe atau sesajen, sampai ayam cemani yang sudah dipenggal ditaruh di atas meja kayu tersebut. Di nyalakanlah 3 dupa dan juga 3 lilin, dan disebarin di meja tersebut. Ranoto pun mengucapkan yang sepertinya sebuah mantra keluar dari mulutnya dengan suara yang kecil dan hampir tak terdengar oleh Bayu. Menit telah berlalu, dan tiba tiba barang di sekitar Bayu dan Ranoto mulai berjatuhan dan bergerak seperti menjauhi mereka. Tiba tiba disitu Bayu bisa melihat sesosok ular putih dan ular hitam datang dari kedua jendela, satu di dapur dan satu lagi di dinding dalam tempat tidurnya. Kedua ular tersebut datang dan menghampiri ke samping Ranoto. Dimana saat itu mereka berdua mulai mendesis dan lama lama berubah menjadi makhluk besar seperti Genderuwo. Ular putih berubah menjadi monster yang terlihat seperti manusia dengan warna kulit putih, dan muka yang hancur dengan gigi dan taring tajam. Sepertinya dekat dengan makhluk ini banyak lebah dan lalat beterbangan.
Ular satunya juga berubah menjadi sosok yang menyeramkan, ular hitam itu berubah menjadi makhluk berbulu seperti ular putih tersebut, lengkap dengan taring dan gigi yang tajam, mata merah menyala. Tetapi yang berbeda, makhluk ini memilik lubang lubang yang mengeluarkan bau amis dan berwarna seperti nanah bercampur darah busuk. Lubang itu seperti lubang untuk keluarnya para lebah madu. Makhluk ini mengeluarkan energi negatif yang membuat Bayu terasa tertusuk di hatinya dan juga langsung membuat Bayu merasa bahwa ini adalah makhluk yang paling kuat dari pada kedua makhluk tersebut.
"Perkenalkan, para pelindung saya, yang di kanan Kyai Suro Butek, dan yang di kiri Nyai Burang Bayongan. Mereka yang selalu melindungi saya dari segala hal, santet, teluh, dan juga segala hal magis. Kalau kamu pernah dengar ada mayat yang ditemukan dengan leher tergorok atau tergigit, itu adalah kelakuan dari Kyai Suro."
Di dalam hati Bayu, mencoba untuk menghafalkan nama mereka di dalam hati, yang tadinya ular hitam, Kyai Suro Butek, dan yang tadinya ular putih, ialah Nyai Burang Bayongan.
"Jadi.., selama ini.., apakah mereka yang membawa kamu ke Gunung itu..?"
"Iya, mereka membawa aku ke Gunung itu, bukan untuk pesugihan atau apa pun, mereka menyuruh aku untuk melakukan pertumbalan nyawa dengan ayam cemani, dan juga kambing kendit. Katanya untuk memperkuat kekuatan magis mereka."
"Oh..." Di saat ini Bayu sedang ketakutan setengah mati, melihat mata mereka dan wujud mereka yang jelas Bayu tidak pernah dan menyangka bahwa mereka beneran ada. Apalagi mata mereka yang menuju ke arah Bayu sedang duduk. Penglihatan mereka seperti menusuk Bayu dan memberi rasa yang sangat tidak enak. Ranoto yang melihat Bayu bergetar dengan ketakutan mulai untuk menyuruh kedua makhluk tersebut balik ke wujud ular mereka. Setelah hal itu terjadi, sebuah keheningan mulai melanda ruang tamu Ranoto. Akhirnya Bayu dengan memberanikan diri memecahkan keheningan tersebut.
"Saya.. pe-pergi dulu.." Dengan suara yang minim dan juga karenanya faktor ketakutan dan bergemetaran.
"Lah, perjanjiannya bagaimana Bayu? Tunda dulu kah?"
"...."
Akhirnya Bayu pergi dengan tanpa mengatakan satu kata apapun. Ia langsung pergi berjalan melewati pepohonan pepohonan yang lebat. berjalan dan lama lama akhirnya mulai membuat gerakan kakinya menjadi lebih cepat, dimana ia akhirnya lari untuk melewati semua mimpi buruk yang ia baru saja saksikan. Akhirnya ia sampai ke rumahnya, dengan bulu kuduknya yang berdiri di seluruh tubuhnya.
Jam sudah menunjukkan tepat angka 12.00 yakni jam 12 malam. Mulai dari ubo rampe atau sesajen, sampai ayam cemani yang sudah dipenggal ditaruh di atas meja kayu tersebut. Di nyalakanlah 3 dupa dan juga 3 lilin, dan disebarin di meja tersebut. Ranoto pun mengucapkan yang sepertinya sebuah mantra keluar dari mulutnya dengan suara yang kecil dan hampir tak terdengar oleh Bayu. Menit telah berlalu, dan tiba tiba barang di sekitar Bayu dan Ranoto mulai berjatuhan dan bergerak seperti menjauhi mereka. Tiba tiba disitu Bayu bisa melihat sesosok ular putih dan ular hitam datang dari kedua jendela, satu di dapur dan satu lagi di dinding dalam tempat tidurnya. Kedua ular tersebut datang dan menghampiri ke samping Ranoto. Dimana saat itu mereka berdua mulai mendesis dan lama lama berubah menjadi makhluk besar seperti Genderuwo. Ular putih berubah menjadi monster yang terlihat seperti manusia dengan warna kulit putih, dan muka yang hancur dengan gigi dan taring tajam. Sepertinya dekat dengan makhluk ini banyak lebah dan lalat beterbangan.
Ular satunya juga berubah menjadi sosok yang menyeramkan, ular hitam itu berubah menjadi makhluk berbulu seperti ular putih tersebut, lengkap dengan taring dan gigi yang tajam, mata merah menyala. Tetapi yang berbeda, makhluk ini memilik lubang lubang yang mengeluarkan bau amis dan berwarna seperti nanah bercampur darah busuk. Lubang itu seperti lubang untuk keluarnya para lebah madu. Makhluk ini mengeluarkan energi negatif yang membuat Bayu terasa tertusuk di hatinya dan juga langsung membuat Bayu merasa bahwa ini adalah makhluk yang paling kuat dari pada kedua makhluk tersebut.
"Perkenalkan, para pelindung saya, yang di kanan Kyai Suro Butek, dan yang di kiri Nyai Burang Bayongan. Mereka yang selalu melindungi saya dari segala hal, santet, teluh, dan juga segala hal magis. Kalau kamu pernah dengar ada mayat yang ditemukan dengan leher tergorok atau tergigit, itu adalah kelakuan dari Kyai Suro."
Di dalam hati Bayu, mencoba untuk menghafalkan nama mereka di dalam hati, yang tadinya ular hitam, Kyai Suro Butek, dan yang tadinya ular putih, ialah Nyai Burang Bayongan.
"Jadi.., selama ini.., apakah mereka yang membawa kamu ke Gunung itu..?"
"Iya, mereka membawa aku ke Gunung itu, bukan untuk pesugihan atau apa pun, mereka menyuruh aku untuk melakukan pertumbalan nyawa dengan ayam cemani, dan juga kambing kendit. Katanya untuk memperkuat kekuatan magis mereka."
"Oh..." Di saat ini Bayu sedang ketakutan setengah mati, melihat mata mereka dan wujud mereka yang jelas Bayu tidak pernah dan menyangka bahwa mereka beneran ada. Apalagi mata mereka yang menuju ke arah Bayu sedang duduk. Penglihatan mereka seperti menusuk Bayu dan memberi rasa yang sangat tidak enak. Ranoto yang melihat Bayu bergetar dengan ketakutan mulai untuk menyuruh kedua makhluk tersebut balik ke wujud ular mereka. Setelah hal itu terjadi, sebuah keheningan mulai melanda ruang tamu Ranoto. Akhirnya Bayu dengan memberanikan diri memecahkan keheningan tersebut.
"Saya.. pe-pergi dulu.." Dengan suara yang minim dan juga karenanya faktor ketakutan dan bergemetaran.
"Lah, perjanjiannya bagaimana Bayu? Tunda dulu kah?"
"...."
Akhirnya Bayu pergi dengan tanpa mengatakan satu kata apapun. Ia langsung pergi berjalan melewati pepohonan pepohonan yang lebat. berjalan dan lama lama akhirnya mulai membuat gerakan kakinya menjadi lebih cepat, dimana ia akhirnya lari untuk melewati semua mimpi buruk yang ia baru saja saksikan. Akhirnya ia sampai ke rumahnya, dengan bulu kuduknya yang berdiri di seluruh tubuhnya.
Comments
Post a Comment